Tidak ada Islam tanpa berjamaah. Tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan. Tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)
Dalam konteks lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ستكون بعدي هنات وهنات، فمن رأيتموه فارق الجماعة، أو يريد أن يفرق أمر أمة محمد كائنا من كان فاقتلوه ؛ فإن يد الله مع الجماعة، و إن الشيطان مع من فارق الجماعة يركض
“Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika diantara kalian melihat orang yang memecah belah Al Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al Jama’ah” (HR. As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir 4672, dishahihkan Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shahih 3621)
Penjelasan berikut akan memahamkan dua jenis jama’ah.
لكن ليعلم أن الجماعة في الشرع نوعان :
Perlu diketahui bahwa istilah ‘jamaah’ dalam syariat memiliki dua pengertian:
1- جماعة أبدان ، والمراد بها أن تكون تحت ولاية ولي أمر مسلم .
Pertama, jamaah badan atau fisik. Yang dimaksud dengan jamaah badan adalah hidup di bawah kepemimpinan seorang penguasa yang muslim.
2- جماعة الأديان ، وعليه يحمل قول ابن مسعود المتقدم و حديث ” ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة ” فالواحدة هي جماعة الأديان.
Kedua, jamaah agama atau non fisik. Inilah pengertian jamaah yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud dalam perkataannya [yaitu: jamaah adalah bersesuaian dengan kebenaran meski engkau sendirian] dan inilah pengertian jamaah dalam hadits perpecahan umat. Nabi mengatakan, “Umatku akan berpecah menjadi 73 pecahan. Seluruhnya di neraka kecuali satu yaitu al Jamaah”. Yang dimaksud dengan al Jamaah di sini adalah jamaah adyan atau jamaah karena memegang kebenaran yang sama.
أما حديث حذيفة ” تلزم جماعة المسلمين وإمامهم ” فالمراد به قطعاً جماعة الأبدان .
Sedangkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan oleh Hudzaifah, “Komitmenlah dengan jamaah kaum muslimin dan penguasanya” jelas yang dimaksud dengan istilah jamaah di sini adalah jamaah badan.
أفاد هذا التقسيم الخطابي في كتاب ” العزلة ” وابن بدران في ” حاشيته على روضة الناظر ” .
Pembagian makna untuk istilah jamaah dalam syariat sebagaimana di atas itu disampaikan oleh al Khathabi dalam buku beliau al ‘Uzlah dan Ibnu Badan dalam Hasyiah atau syarah beliau untuk kitab Raudhoh al Nazhir. (Sumber: Al Mukhtashar al Syafi karya Abdul Aziz ar Rais hal 10)
Salah satu kekuatan umat yang harus terus-menerus dijaga dan dipelihara dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan adalah kekuatan berjamaah, baik dalam ibadah maupun muamalah.
Dalam Islam, konsep hidup berjama’ah juga menempati posisi yang sangat tinggi. Bahkan hidup berjama’ah merupakan salah satu aspek terpenting untuk tegaknya Islam secara kaffah. Allah SWT secara langsung menyuruh umat manusia untuk hidup dalam bingkai jama’ah. Sebagaimana firmanNya dalam QS.Al Imran Ayat: 103, “Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah kalian bercerai berai”.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” QS. As Shaff ayat 4.
Sebagai penguat Nabi Muhammad SAW bersabda “ Berdua lebih baik daripada sendiri, bertiga lebih baik daripada berdua, berempat lebih baik daripada bertiga, maka hendaklah kalian tetap bersama jama’ah, karena sesungguhnya tidak akan mengumpulkan umatku kecuali atas sebuah petunjuk (Hidayah)”.
Kita juga bisa melihat keutamaan hidup berjama’ah lewat untaian kata mutiara dari Kholifah Umar Bin Khattab. Sebuah perkataan yang sangat menyentuh dan menjadi evalusi untuk kita bersama yaitu “Tidak ada Islam akan sempurna pengamalannya kecuali dengan jama’ah”. Artinya adalah dengan hidup berjama’ah maka kita akan bisa melaksanakan ajaran Islam secara maksimal.
Begitu tinggi Islam memposisikan pentingnya menjalani hidup secara berjama’ah. Selain hidup berjama’ah merupakan perintah yang di syariatkan, hal itu juga karena di dalam hidup berjama’ah menyimpan banyak sekali keberkahan. Salah satunya, hidup berjama’ah akan mengantarkan kita kepada persatuan yang saling menguatkan antar mukmin yang satu dengan lainnya. layaknya anggota tubuh jika ada salah satu yang merasa sakit, maka bagian yang lain akan turut merasakannya”.
Rasulullah SAW bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka angota anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR. Bukhari Muslim)
Selain itu aspek keberkahan dari hidup berjama’ah juga akan mampu menguatkan dan menyelamatkan kita dari keburukan dan kebinasaan. Kenapa bisa demikian ? tidak lain karena dengan kita berjama’ah maka seluruh potensi akan terkumpulkan dan termaksimalkan. Setiap anggota jama’ah akan saling menguatkan, menutupi dan melengkapi kekurangan yang ada di anggota lainnya. Sehingga dengan berjama’ah potensi yang awalnya terserak dan lemah akan berubah menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan. Layaknya sebatang lidi yang lemah dan tak banyak berfungsi tapi begitu sudah disatukan menjadi seikat sapu lidi maka ia akan menjadi kuat dan bisa berdayaguna lebih.
Adapun yang dikatakan bahwa hidup dengan berjama’ah mampu menyelamatkan maksudnya yaitu jika kita hidup dalam bingkai jama’ah maka orang orang yang mungkin mau berniat jahat kepada kita akan berpikir dua kali. Karena dengan kita berjama’ah secara otomatis kekuatan jama’ah secara keseluruhan akan memperkuat dan “melindungi” kita.
Kondisi tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya srigala hanya memakan domba yang tercecer dari kelompoknya”. Artinya ketika kita dalam satu jama’ah musuh akan kesulitan bahkan tidak berani untuk menggangu kita. Namun ketika kita jauh atau keluar dari jama’ah maka mereka akan sangat berani mengganggu dan menyakiti kita.
Kemudian keberkahan berjama’ah lainnya yaitu akan terciptanya kontrol sosial. Sebagaimana hadis Nabi
عن أنس رضي الله عنه مرفوعا: إن أمتي لن تجتمع على ضلالة، فإذا رأيتم الاختلاف فعليكم بالسواد الأعظم.
[هـ، ابن أبي عاصم، عبد بن حميد، اللالكائي، ((الضعيفة)) (2896)]
Daripada Anas RA secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi SAW): Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Oleh itu, apabila kamu melihat berlakunya perselisihan, maka hendaklah kamu bersama kumpulan yang terbesar.
[Riwayat Ibn Majah, Ibn Abi 'Asim, 'Abd bin Humaid, al-Lalaka'iy. Lihat Silsilah al-Da'ifah, no. 2896]
Lebih dari itu bila kita berjama’ah maka sudah pasti diantara kita akan saling mengingatkan dalam kebaikan”Watawa shoubil haq, watawa shoubis shobri” antara satu dengan lainya. Kontrol sosial ini menjadi penting karena sebagaimana kita ketahui bahwa keimanan seseorang itu kadang bertambah dan dilain waktu bisa turun. Sehingga perlu kiranya kita membangun kontrol sosial kebaikan dengan hidup berjama’ah. Agar ketika keimana kita berada dalam kondisi melemah atau terpuruk, masih ada orang orang di sekitar kita yang akan mengingatkan dan menguatkan keimanan kita.
Sebuah keberkahan hidup berjama’ah lainnya bisa kita temukan lewat pelaksanaan sholat berjama’ah. Dimana jika kita mengerjakan sholat dengan berjama’ah maka pahalanya akan dilipat gandakan. Sangat berbeda jauh ketika sholat tersebut kita laksanakan sendirian. Sebagaimana Hadis Rasulullah SAW “Sholat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding sholat sendiri” (HR. Bukhari Muslim).
Dalam kontek umum, kita bisa melihat dan mengetahui kecenderungan serta kualitas seseorang dari kehidupan “berjama’ah”nya. Maksudnya, kita bisa menyimpulkan kualitas seseorang dengan melihat lingkungan pergaulannya. Karena biasanya seseorang akan bergaul dengan orang yang punya kecenderungan yang sama. Baik itu minat, bakat, hobi, karakter dan semisalnya. Sehingga untuk melihat kualitas seseorang kita bisa melihat bagaimana kwalitas teman temannya. Walaupun itu tidak seratus persen benar, setidaknya realita tersebut yang sering kita dapati dikehidupan masyarakat.
Lebih jauh, seseorang pasti akan terpengaruh oleh lingkunagan pergaulannya. Misalnya jika seseorang bergaul dengan tukang sate maka pasti dia akan mendapatkan efek dari bau satenya. Begitu juga jika dia bergaul dengan penjual parfum maka kemungkinan besar dia juga akan “kecipratan” aroma parfum yang dijual oleh teman sepergaulannya tersebut.
Posting Komentar