AGAMA YANG MENCERDASKAN

 

*AGAMA YANG MENCERDASKAN*

oleh: Prof. Dr. Ir. Wiryono, MSc.


Manusia, dalam ajaran Islam, adalah *khalifah* (wakil, pengganti) Allah swt di muka bumi. Sebagai khalifah Allah swt, manusia diberi kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam di bumi dan di langit. Namun manusia juga diberi tanggung jawab untuk tidak membuat kerusakan di bumi.


Untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam, manusia diberi bekal akal. *Kemampuan akal dapat diasah dengan membiasakan diri berfikir sistematis, kritis, dan logis.* Berfikir sistematis artinya mampu mengorganisir informasi yang diterimanya sehingga memudahkan untuk memahaminya. Berfikir kritis artinya selalu mempertanyakan kebenaran informasi yang diterimanya, tidak menerima ajaran yang sifatnya dogmatis. Berfikir logis artinya dapat menghubungkan informasi satu dengan lainnya dan mengambil kesimpulan yang benar.

*Dengan memanfaatkan akalnya itu manusia dapat menyeberangi lautan yang dalam dan luas, dapat menembus langit yang tinggi, bahkan mendarat di bulan, dapat mengetahui bahwa jauh di bawah bukit ada logam mulia dan dapat mengambilnya lalu menggunakannya untuk membuat produk-produk teknologi yang bermanfaat.*  Akal diberikan kepada setiap manusia tanpa pandang agama, suku bangsa, dan ras. Oleh karena itu *kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam tidak tergantung pada agama, suku bangsa dan ras, tetapi penggunaan akalnya untuk melakukan penelitian terhadap alam*. 


*Al Quran banyak mengandung ayat-ayat yang memerintahkan manusia menggunakan akalnya ( يَعْقِلُونَ ) untuk memperhatikan (يَنظُرُونَ) memikirkan/merenungkan (  يَتَفَكَّرُونَ ) langit, bulan-bintang, gunung, tumbuh-tumbuhan, kejadian manusia, kejadian hewan, dll*.  *Kalau umat Islam menjalankan perintah agama untuk mengoptimalkan akalnya ini, maka pengajian-pengajian akan berisi bukan hanya teks Al Quran dan hadits serta tafsir jaman dulu, tetapi juga berisi hasil-hasil penelitian yang mendukung teks-teks tersebut.* Misalnya, pembahasan tentang puasa dan shalat bukan hanya berisi kajian fiqih, tetapi juga berisi kajian hasil-hasil penelitian biologi, kesehatan, psikologi dan sosial tentang dampak puasa pada kesehatan jiwa, raga dan hubungan sosial. 


Jika pengajian diisi dengan pembahasan teks Al Quran, Hadits yang dilengkapi dengan hasil-hasil penelitian ilmiah, maka pengajian-pengajian tersebut akan menjadi forum ilmiah yang komprehensif, yang mengasah IQ dan EQ. Oleh karena itu ustadz-ustadz sekarang perlu dibekali pengetahuan yang komprehensif, bukan hanya pengetahuan agama yang konvensional (tauhid, fiqih, akhlaq, tafsir), tetapi juga pengetahuan alam dan sosial. *Pada masa keemasan Islam, banyak intelektual Muslim yang hafal hafal Quran, ahli fiqih, tetapi juga menguasai matematik, filsafat, kedokteran, dan astronomi.* Dengan luasnya ilmu pengetahuan sekarang ini, tentu sulit untuk mendapatkan ustadz yang menguasai semua ilmu, namun demikian paling tidak para ustadz perlu dibekali pengetahuan ilmu alam yang memadai dan dilatih untuk menggunakan referensi hasil-hasil penelitian ilmiah. 


Agama adalah tuntunan hidup yang didasarkan pada teks Al Quran dan Hadits yang kemudian ditafsirkan oleh para ulama. *Karena zaman berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka tasir atas teks Al Quran harus disesuaikan dengan perubahan tersebut. Jika ajaran agama hanya merujuk pada penafsiran ulama-ulama terdahulu, maka ajaran agama akan membawa manusia kepada masa lalu.* Sebaliknya, jika penafsiran agama disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka agama akan mampu menuntun manusia menghadapi masa depan.


(Wiryono)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama